Ternyata Puasa Qadha bisa digabung dengan Puasa Arafah..

Berikut Dasar Hukum Bolehnya menggabungkan dua Amalan yang Wajib dan Sunnah, terjadi pada Hadits tentang Qiran yaitu Menggabungkan Niat Umrah dan Haji Sekaligus.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجَّةٍ

"Aku mendengar Nabi Shollollohu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Labbaik bi'umratin wa hajjah' artinya Aku penuhi panggilanMu untuk umrah dan haji." Hadits riwayat Tirmidzi
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : (وأما الذين كانوا جمعوا بين الحج والعمرة , فإنما طافوا لهما طوافا واحدا) 
متفق عليه

"Adapun orang-orang yang menggabungkan haji dan umrah, mereka hanya melakukan satu kali tawaf untuk keduanya."
Jadi Haji Qiran adalah salah satu pelaksanaan ibadah haji yang menggabungkan niat haji dan umrah sekaligus dalam satu perjalanan

Kemudian model haji Qiran ini diqiyaskan kepada ibadah yang lain. Misalnya seseorang Menggabungkan Puasa Qadha kepada Puasa Arafah. Hal serupa bisa juga diterapkan kepada seseorang yang terlambat shalat isya berma'mum kepada imam tarawih.

Ia boleh ikut berjamaah dengan niat Isya, shalat bersama hingga imam salam dari sepasang rakaat (karena tarawih biasanya 2 rakaat per salam), lalu ia berdiri menyempurnakan sisa rakaat Isya (menjadi 4 rakaat total). 

Setelah itu, ia bisa melanjutkan tarawih jika mau. Ini adalah pendapat yang dibolehkan menurut Lajnah Daimah dan Syaikh Ibnu Baz Rahimahumallah.

يَجُوزُ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَ جَمَاعَةِ الْعِشَاءِ مَنْ يُصَلِّي التَّرَاوِيحَ، فَإِذَا قَامَ الْإِمَامُ سَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ مِنَ التَّرَاوِيحِ فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَهُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
(فَتَاوَى اللَّجْنَةِ الدَّائِمَةِ ٤٠٢/٧)

قَالَ الشَّيْخُ ابْنُ بَازٍ رَحِمَهُ اللَّهُ:

لَا حَرَجَ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُمْ فِي صَلَاةِ الْعِشَاءِ بِنِيَّةِ الْعِشَاءِ، فَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ وَقَامَ الْمَأْمُومُونَ فَإِنَّهُ يُتِمُّ صَلَاتَهُ
(مَجْمُوعُ الْفَتَاوَى ١٢/١٨١)


Dari Fatwa Lajnah Daimah (7/402):

"Dibolehkan bagi orang yang hendak melaksanakan shalat tarawih untuk shalat bersama jamaah shalat Isya. Maka apabila imam bangun (melanjutkan) setelah salam dari dua rakaat tarawih, maka ia (yang berniat Isya) shalat di belakangnya dan melaksanakan dua rakaat (untuk menyempurnakan shalat Isya)."

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

"Tidak ada masalah baginya untuk shalat bersama mereka dalam shalat Isya dengan niat shalat Isya. Maka apabila imam telah salam dan para makmum berdiri (melanjutkan), maka ia menyempurnakan shalatnya."

(Majmu' Fatawa 12/181)
Adapun Syarat bolehnya 2 ibadah digabungkan, Pertama, ibadah yang dilakukan Harus satu jenis, misalnya sama-sama ibadah shalat atau sama-sama ibadah puasa

Kedua, Harus dalam satu waktu. Ketiga, Tidak berlaku bila ada dalil yang mengharuskan ibadah itu berdiri sendiri. Misalnya puasa Syawal yang tidak bisa digabung dengan Qadha puasa wajib. 

Karena puasa Syawal bisa dilakukan jika puasa ramadhan sudah sempurna dilaksanakan. 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ

Maka Kata ثم أتبعه menunjukkan Romadhon harus sempurna dulu, termasuk juga qadhanya.

SEDANGKAN DALAM PUASA ARAFAH TIDAK DALIL KHUSUS YANG MELARANG TADAKHUL YAITU MENGGABUNGKAN PUASA QADHA DENGAN PUASA ARAFAH 

Maka dalam bab ini berlaku Kaidah :
إِذَا اجْتَمَعَتْ عِبَادَتَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَفِي وَقْتٍ وَاحِدٍ تَدَاخَلَتَا
Apabila berkumpul dua ibadah dari jenis yang sama dan pada waktu yang sama, maka keduanya boleh Digabungkan. 
Adapun Pendapat para imam madzhab mengenai penggabungan puasa qadha dan Syawal:

1. Imam An-Nawawi رحمه الله ( Madzhab Syafi'i); 

لا يحصل ثواب الست من شوال بصيام القضاء
“Tidak diperoleh pahala puasa enam Syawal dengan puasa qadha.”

(Al-Majmu’)

2. Ibnu Qudamah ( Mazhab Hanbali): 

Puasa sunnah yang memiliki sebab khusus tidak tercapai ( digabung ) dengan puasa wajib.

(Al-Mughni)

3. Madzhab Maliki

Puasa sunnah yang muqayyad dengan waktu dan jumlah tidak bisa digabung dengan wajib.

(Hashiyah Ad-Dasuqi)

4. Madzhab Hanafi
Puasa wajib harus diniatkan khusus, dan tidak mencukupi puasa sunnah tertentu.
(Al-Bada’i as-Shana’i)

Adapun sikap Sikap Paling Aman (Ikhtiyath) dalam puasa Syawal adalah: 

√ Qadha dulu, lalu puasa Syawal
√ Jika waktunya sempit, Dahulukan Qadha
Karena jika Syawal gugur, tidak berdosa

Maka Kaidah yang cocok untuk Masalah ini : 

الفرض لا يقوم مقام السنة المقصودة بذاتها

“Ibadah wajib tidak menggantikan ibadah sunnah yang punya tujuan khusus.”



0 Komentar