4 Trik Licik Syetan yang bisa Menjerumuskanmu Tanpa Sadar

Disarikan Dari Kitab Ighotsatul Lahfan Fi Mashayid Asy-Syaithan Karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Banyak orang mengira nafsu akan langsung menyuruh seseorang melakukan dosa besar. Padahal, jalan nafsu sangatlah halus. Ia tidak berkata "tinggalkanlah sholat selamanya," melainkan berbisik pelan, sedikit demi sedikit, hingga seseorang tenggelam tanpa merasa sedang tenggelam.

Hal inilah yang dibongkar oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitabnya, Ighotsatul Lahfan—sebuah karya yang membahas jebakan setan melalui pintu nafsu manusia. Beliau menjelaskan 4 trik utama nafsu yang sering kali tidak disadari.


1. At-Taswif: Menunda Kebaikan dengan Kata "Nanti Saja"

Trik ini merupakan jebakan yang paling banyak menjerumuskan manusia. Nafsu tidak melarang untuk bertaubat, ia hanya berkata, "Nanti saja."

Nanti saja sholatnya, masih lelah.

Nanti saja hijrahnya, masih muda.

Nanti saja taubatnya, nikmati dulu dunianya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

التَّسْوِيفُ مِنْ جُنُودِ الشَّيْطَانِ

"Menunda-nunda kebaikan adalah bagian dari tentara setan."

Berapa banyak orang yang wafat dalam keadaan menunggu kata "nanti" itu tiba. Padahal Allah Subhanahu Wata'ala justru memerintahkan sebaliknya:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu." 

(QS. Ali 'Imran: 133)

Obatnya: Lawan kata "nanti" dengan kata "sekarang". Jika terlintas keinginan untuk bertaubat dan beramal sholeh, lakukan saat itu juga sebelum bisikan tersebut hilang.



2. Istihqaru Dzunub: Meremehkan Dosa Kecil

Saat timbul keinginan untuk ghibah, dusta kecil, atau memandang yang haram, nafsu berbisik: "Ah, ini kan hanya dosa kecil. Allah Maha Pengampun."

Ibnul Qayyim menjelaskan sebuah kaidah penting: tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus. Dosa kecil yang diremehkan bagaikan percikan api kecil—jika dibiarkan, ia mampu membakar seluruh hutan hati.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ

"Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa kecil yang dianggap remeh." 

(HR. Ahmad No. 3803)

Nafsu membuat manusia meremehkan dosa kecil agar terbiasa. Ketika sudah terbiasa, hati tidak lagi merasa takut untuk melakukan dosa yang lebih besar.

Obatnya: Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kita bermaksiat. Lawan setiap dosa kecil dengan istighfar yang besar.



3. Al-Iqtida' Bil Katsrah: Merasa Aman Karena Banyak Orang Melakukan.

Ini adalah trik pembenaran melalui jumlah. Saat hati ingin meninggalkan kebaikan, nafsu berkata: "Lihat, teman-temanmu juga banyak yang tidak melakukannya." Atau saat ingin membuka aurat: "Semua orang juga begitu, tidak hanya kamu."

Seolah-olah jika sebuah kesalahan dilakukan bersama-sama, kesalahan itu berubah menjadi kebenaran. Padahal Allah Subhanahu Wata'ala berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." 

(QS. Al-An'am: 116)

Ibnul Qayyim menegaskan untuk tidak tertipu dengan banyaknya orang yang binasa. Keselamatan itu bukan pada banyaknya pengikut, melainkan pada kebenaran jalannya.

Obatnya: Lawan rasa ingin ikut-ikutan dengan ilmu. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa kata Allah tentang ini?" bukan "Apa kata orang tentang ini?"



4. Al-Ujub Bil Amal: Tertipu Karena Merasa Sudah Banyak Ibadah.

Trik ini paling licik, khususnya bagi orang yang rajin beribadah. Setelah tahajud, puasa, atau sedekah, nafsu datang dan berbisik: "Kamu sudah baik, sekali saja maksiat tidak apa-apa. Pahalamu masih banyak."

Inilah yang disebut ujub—merasa bangga dengan amalan sendiri. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa setan lebih menyukai orang yang ujub dengan amalnya dibanding orang yang bermaksiat tetapi menangis menyesal. Orang yang menangis menyesal berada dekat dengan taubat, sedangkan orang yang ujub merasa tidak lagi membutuhkan taubat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ: الْعُجْبُ

"Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku khawatir pada kalian sesuatu yang lebih besar darinya: yaitu ujub (bangga diri)." 

(HR. Al-Baihaqi)

Obatnya: Selalu ingat bahwa seluruh ibadah yang dilakukan adalah karena taufik dari Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri. Tidak ada satu pun amal yang menjamin surga tanpa rahmat-Nya.

Perenungan Bersama

Pelajaran ini menjadi pengingat utama bagi diri sendiri sebelum kepada para pembaca sekalian. Masih sering terasa godaan menunda taubat, meremehkan dosa kecil, merasa aman karena mayoritas orang melakukan hal serupa, hingga rasa bangga atas amalan yang sedikit.

Musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan nafsu di dalam diri sendiri yang membisikkan keempat trik tersebut setiap hari. Tugas manusia bukanlah menghilangkan nafsu—karena nafsu akan selalu ada selama hidup—melainkan belajar mengendalikannya dengan ilmu dan kesadaran.

Nafsu yang tidak dikendalikan akan menyeret pemiliknya secara perlahan. Namun, nafsu yang berhasil dikendalikan dengan kesabaran dan mujahadah akan mengantarkan pemiliknya menuju surga. Semoga Allah Subhanahu Wata'ala menjaga hati kita dari tipu daya nafsu yang halus ini dan membimbing kita untuk selalu bersegera dalam kebaikan.

Wallahu a'lam bishawab.




📢 INFORMASI PPDB 2027–2028

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah Mari bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah.

📱 Informasi Pendaftaran

wa.me/6281317002011

💬 Hubungi Admin PPDB untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dan penerimaan santri baru.

Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung bersama kami!



0 Komentar