Banyak orang masih mengira tugas Ayah hanya satu: mencari nafkah. Padahal, kehadiran Ayah dalam dunia bermain anak punya peran besar dalam mendukung kecerdasan, mengontrol emosi, membangun rasa percaya diri, hingga melatih kemampuan sosial mereka.
Dalam Islam, pengasuhan anak bukanlah tugas ibu semata. Al-Qur'an justru mendokumentasikan banyak dialog pengasuhan dan pendidikan karakter yang dilakukan oleh seorang ayah—seperti kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ya'qub, hingga Luqman Al-Hakim.
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ
"Wahai anakku, laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan."
— QS. Luqman: 17
Berikut lima alasan ilmiah dan prinsip Islam mengapa kehadiran Ayah saat bermain sangat krusial bagi masa depan anak.
Saat bermain, Ayah cenderung mengajak anak mencoba hal baru, menghadapi tantangan fisik, serta menyelesaikan masalah (problem solving). Di situlah otak anak belajar berpikir kritis dan kreatif.
Rasulullah pun tidak ragu untuk masuk ke dunia anak-anak dan memberikan stimulasi kecerdasan serta ketangkasan sejak dini melalui interaksi yang menyenangkan.
كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَهُوَ لَهْوٌ وَلَعِبٌ، إِلاَّ أَرْبَعٌ: مُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَتَأْدِيبُهُ فَرَسَهُ، وَمَشْيُهُ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ، وَتَعْلِيمُ الرَّجُلِ السِّبَاحَةَ
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung zikrullah adalah perbuatan sia-sia, senda gurau, atau permainan, kecuali empat perkara: seorang suami yang mencumbu (bercanda dengan) istrinya, melatih kudanya, melangkah di antara dua sasaran (latihan memanah), dan mengajarkan renang."
— HR. An-Nasa'i (Shahih)
Permainan fisik bersama Ayah biasanya lebih dinamis. Ada momen menang, ada momen kalah. Di sinilah anak belajar mengendalikan emosi, menerima kegagalan secara sehat, dan bangkit kembali.
Rasulullah mengisahkan kehangatan beliau saat bermain dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Beliau bahkan bersedia menjadi "tumpangan" bermain bagi mereka tanpa rasa gengsi.
Nabi pernah sujud dalam salatnya cukup lama. Ketika selesai, para sahabat bertanya alasannya. Beliau bersabda:
"Cucuku ini (Hasan/Husain) menunggangi punggungku, maka aku tidak ingin terburu-buru sampai dia menyelesaikan keinginannya."
— HR. An-Nasa'i & Ahmad (Shahih)
Dukungan dan apresiasi langsung dari Ayah memberikan validasi internal bagi anak: "Aku mampu, dan Ayah bangga padaku."
Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menekankan betapa berpengaruhnya pola asuh ayah sejak dini terhadap pembentukan mental anak:
فَمَنْ أَهْمَلَ تَعْلِيمَ وَلَدِهِ مَا يَنْفَعُهُ، وَتَرَكَهُ سُدًى، فَقَدْ أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَةَ الإِسَاءَةِ، وَأَكْثَرُ الأَوْلاَدِ إِنَّمَا جَاءَ فَسَادُهُمْ مِنْ قِبَلِ الآبَاءِ
"Barang siapa yang mengabaikan pengajaran yang bermanfaat bagi anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah berbuat keburukan yang sangat besar kepadanya. Dan mayoritas kerusakan anak itu bersumber dari para ayah."
— Tuhfatul Mawdud bi Ahkamil Mawlud
Interaksi saat bermain—seperti berdiskusi aturan main, bercerita, atau menyusun strategi—memperkaya kosakata dan melatih empati anak.
Imam Ibnu Sirin Rahimahullah menggambarkan bagaimana para pendahulu yang saleh menempatkan kedudukan humor dan kehangatan seorang ayah di rumah:
"Aku bertanya kepada Ubaidah tentang sifat para sahabat. Beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang paling santai dan paling suka bercanda di rumahnya bersama keluarganya, namun jika telah masuk urusan agama, mereka adalah laki-laki yang sungguh-sungguh."
Penelitian modern (Yogman & Garfield, 2018 - American Academy of Pediatrics) mengonfirmasi bahwa keterlibatan aktif seorang ayah yang hangat berbanding lurus dengan kecerdasan kognitif, stabilitas emosi, dan keberhasilan akademik anak.
Islam telah mendahului temuan ini ratusan tahun lalu. Pengasuhan Ayah bukan sekadar menghabiskan waktu, melainkan investasi lahiriah dan batiniyah.
Pesan untuk para Ayah.
Jangan anggap waktu bermain bersama anak sebagai waktu yang terbuang. Saat Ayah duduk di lantai, tertawa, merangkak, dan menemani anak bermain, saat itulah Ayah sedang mengukir karakter dan masa depan mereka.
Bagi anak, kehadiran Ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar utama proses tumbuh tumbuh kembangnya.
📢 INFORMASI PPDB 2027–2028
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah Mari bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah.
📱 Informasi Pendaftaran
💬 Hubungi Admin PPDB untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dan penerimaan santri baru.
Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung bersama kami!




0 Komentar