Nabi pernah Bekerjasama dan Minta di Back Up oleh Tokoh Kafir di awal dakwah


Sejarah Islam kerap mencatat strategi-strategi brilian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menyebarkan risalah Islam. Jauh sebelum era perjanjian damai seperti Piagam Madinah, ternyata di fase-fase paling kritis periode Mekkah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam. pernah menempuh langkah taktis yang sangat pragmatis namun tetap beretika yaitu Nabi pernah meminta jaminan keamanan (jiwar atau suaka) dari seorang tokoh kafir.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di balik keputusan tersebut tersimpan kisah perjuangan yang menguji mental, keteguhan, sekaligus keluhuran akhlak Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dalam mengenang jasa kebaikan seseorang, bahkan kepada orang yang belum beriman.



A. Titik Balik Tersulit saat Amul Huzni dan Tragedi Thaif.

Peristiwa ini bermula pada tahun kesedihan (Amul Huzni), saat Nabi kehilangan dua pelindung terbesarnya yaitu sang paman Abu Thalib dan istri tercinta Siti Khadijah radhiyallahu anha. 

Tanpa perlindungan sosial yang kuat dari klannya, kaum musyrikin Quraisy semakin leluasa menindas dan menghalangi dakwah Islam di Mekkah.

Berharap menemukan angin segar, Nabi berhijrah sementara ke Thaif untuk menemui Bani Tsaqif. Namun, kenyataan pahit harus diterima. Alih-alih mendengarkan dakwah, penduduk Thaif mengusir beliau dengan lemparan batu hingga kaki beliau berdarah.

Saat hendak kembali ke Mekkah, Nabi dihadapkan pada dilema besar yaitu beliau tidak memiliki pelindung (protektor), sementara adat bangsa Arab saat itu melarang siapapun masuk ke sebuah wilayah tanpa berada di bawah suaka (jiwar) tokoh yang berpengaruh.



B. Mengetuk Pintu Tokoh-Tokoh Kafir tapi Ditolak hingga Diterima.

Sebelum memasuki tanah haram Mekkah, Nabi mencoba mendekati beberapa pemuka Quraisy untuk meminta perlindungan keamanan. Upaya ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai realitas sosial dan hukum adat yang berlaku saat itu demi keselamatan misi dakwah:

å Akhnas bin Syuraiq, Didekati Nabi, namun menolak karena merasa dirinya hanyalah sekutu (halif) dan bukan anggota asli klan utama.

å Suhail bin Amru, Menolak dengan alasan kabilahnya tidak berada dalam jalur aliansi yang tepat untuk memberikan suaka tersebut.

å Al-Muth'im bin 'Adi, Melalui perantara, Nabi akhirnya meminta suaka kepada Al-Muth'im bin 'Adi, seorang pemuka dari Bani Naufal (salah satu klan suku Quraisy yang kafir). Di luar dugaan, Al-Muth'im menyambut permohonan tersebut dengan tangan terbuka.



C. Pembelaan Sang Tokoh Kafir di Mata Para Sejarawan.

Peristiwa heroik ini diabadikan secara rinci oleh para sejarawan agung Islam, salah satunya oleh Ibnu Hisyam dalam kitab monumental As-Sirah An-Nabawiyah:

قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: ثُمَّ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَجَارَ بِالْمُطْعِمِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ فِي جِوَارِهِ، فَقَالَ الْمُطْعِمُ: نَعَمْ. وَدَعَا بَنِي حَومِهِ وَقَوْمَهُ، فَقَالَ: إلْبِسُوا السِّلَاحَ، فَكُونُوا عِنْدَ أَرْكَانِ الْبَيْتِ، فَإِنِّي قَدْ أَجَرْتُ مُحَمَّدً

"Ibnu Hisyam berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Al-Muth'im bin 'Adi bin Naufal bin Abdu Manaf agar bisa masuk ke Mekkah di bawah suakanya. Al-Muth'im berkata, 'Baiklah.' Ia lalu memanggil anak-anak dan kaumnya, seraya berkata, 'Kenakanlah senjata kalian dan berdirilah di sudut-sudut Baitullah, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad.'"

Bahkan, ketika para pemuka Quraisy lain seperti Abu Jahal mendatangi Al-Muth'im untuk memastikan status perlindungan tersebut—apakah Al-Muth'im sudah masuk Islam atau sekadar melindungi—dengan tegas ia menjawab bahwa dirinya hanya memberikan suaka. Abu Jahal pun akhirnya menghormati keputusan itu dengan berkata, "Kami melindungi siapa saja yang telah engkau lindungi."



D. Kesetiaan Abadi, Balas Budi Nabi kepada Al-Muth'im.

Meskipun Al-Muth'im bin 'Adi wafat dalam keadaan kafir sebelum Perang Badar, Rasulullah saw. tidak pernah melupakan budi baiknya. Prinsip wafa' (kesetiaan dan balas budi) yang dijunjung tinggi oleh Nabi terlihat jelas usai Perang Badar.

Melihat banyaknya tawanan perang Quraisy dari pihak musuh, Nabi bersabda mengenang jasa Al-Muth'im:

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا، ثُمّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ

"Seandainya Al-Muth'im bin 'Adi masih hidup, kemudian ia berbicara kepadaku mengenai para tawanan yang busuk ini, niscaya akan aku bebaskan mereka untuknya." 

(HR. Bukhari no. 4023)

Kisah kerja sama Nabi Muhammad saw. dengan Al-Muth'im bin 'Adi memberikan pelajaran berharga (faedah) bagi umat Islam. Bahwa dalam berdakwah dan bernegara, Islam sangat rasional, terbuka terhadap hukum perlindungan yang berlaku, serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan balas budi—bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan.

Referensi.

å As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.

å Tarikh al-Umur wal Muluk karya Imam Al-Thabari.

å Sahih Al-Bukhari (Kitab Al-Maghazi).

å Al-Rahiq Al-Makhtum karya Syeikh Safiurrahman Al-Mubarakpuri.










📢 INFORMASI PPDB 2027–2028

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU

Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah Mari bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Inklusi Griya Sunnah.

📱 Informasi Pendaftaran

wa.me/6281317002011

💬 Hubungi Admin PPDB untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dan penerimaan santri baru.

Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung bersama kami!


0 Komentar